Pages

Subscribe:

Sabtu, 07 Januari 2012

HAKEKAT BELAJAR DAN PEMBELAJARAN



A.    MAKNA BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

1.    Belajar, perkembangan, dan pendidikan
Belajar, perkembangan, dan pendidikan merupakan suatu peristiwa dan tindakan sehari-hari. Dari siswa sebagai pelaku belajar dan dari sisi guru sebagai pembelajar. Dapat ditemukan adanya perbedaan dan persamaan. Hubungan siswa dan guru adalah hubungan fungsional, dalam arti perilaku pendidik dan perilaku terdidik.
2.      Ciri-ciri belajar dan pembelajaran
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses balajar.
Ciri-ciri umum pendidikan, belajar, dan perkembangan :
Unsur-unsur
Pendidikan
Belajar
Perkembangan
1.      perilaku
Guru sebagai pe-rilaku mendidik dan siswa yang terdidik.
Siswa yang bertindak belajar atau pebelajar.
Siswa yang mengalami perubahan.
2.      Tujuan
Membantu siswa untuk menjadi pribadi mandiri yang utuh.
Memperoleh hasil belajar dan pengalaman hidup.
Memperoleh perubahan mental.
3.      Proses
Intraksi sebagai faktor eksternal belajar.
Internal pada diri pebelajar.
Internal pada pebelajar.
4.      Tempat
Lembaga pendidikan sekolah dan luar sekolah.
Sembarangan tempat.
Sembarangan tempat.
5.      Lama waktu
Sepanjang hayat dan sesuai jenjang lembaga.
Sepanjang hayat.
Sepanjang hayat.
6.      Syarat terjadi
Guru memiliki kewibawaan pendidikan.
Motivasi belajar kuat.
Kemauan mengubah diri.
7.      Ukuran keberhasilan
Terbentuk pribadi terpelajar.
Dapat memecahkan masalah.
Terjadinya perubahan positif.

8.      Faedah
Bagi masyarakat mencerdeskan kehidupan bangasa.
Bagi pebelajar mempertinggi martabat pribadi.
Bagi pebelajar memperbaiki kemajuan mental.
9.      Hasil
Pribadi sebagai pembangun yang pruduktif dan kreatif.
Hasil belajar sebagai dampak pengajaran dan pengiring.
Kemajuan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

                        Berikut berapa pendapat para ahli tentang belajar:
a)      Belajar menurut pandangan skinner
Belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya lebih baik. Sebaliknya, bila ia tidak belajar maka responnya menurun.
b)      Belajar menurut gagne
Belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil belajar berupa kafasilitas. Setelah belajar orang memiliki kerampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.
c)      Belajar menurut pandangan piaget
Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu. Sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perlimbahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.
d)     Belajar menurut rogers
Rogers menyayangkan praktek pendidikan disekolah tahun 1960-an. Menurut pendapatnya, praktek pendidikan menitik beratnya pada segi pengajaran bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh peran guru yang dominan dan hasil siswa hanya menghapalkan pelajaran.
B.     TUJUAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
1.  Tujuan instruksional, tujuan  pembelajaran, dan tujuan belajar
Dari segi guru, tujuan instruksional dan tujuan pembelajaran merupakan pedoman tindak mengajar dengan acuan berbeda. Tujuan instruksional (umum dan khusus) dijabarkan dari kurikulum yang berlaku secara legal disekolah. Tujuan kurikulum sekolah tersebut dijabarkan dari tujuan pendidikan nasional yang terumus didalam UU pendidikan yang berlaku.
Dari segi siswa, secara belajar merupakan panduan belajar. Sasaran belajar tersebut diketahui oleh siswa sebagai akibat adanya informasi guru. Panduan belajar tersebut harus diikuti, sebab mengisyaratkan kretria keberhasilan belajar. Keberhasilan siswa merupakan prasyaratan bagi program belajar selanjutnya. Keberhasilan belajar siswa berarti “ tercapainya” tujuan belajar siswa, dengan demikian merupakan tercapainya tujuan instruksional, dan sekaligus tujuan belajar “perantara” bagi siswa.
2.      Siswa dan tujuan belajar
Siswa adalah subjek yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar disekolah. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami tindak mengajar, dan merespons dengan tindak belajar. Pada umumnya semula siswa belum menyadari pentingnya belajar. Berkat informasi guru tentang sasaran siswa belajar, maka siswa mengetahui apa arti bahan belajar baginya.
C.    TEORI DALAM BELAJAR
1)      Teori Behaviorisme  
Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek– aspek  mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari  pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :
a.       Connectionism ( S-R Bond)  menurut Thorndike
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum  belajar, diantaranya:
·         Law of Effect artinya bahwa  jika  sebuah  respons  menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula  hubungan  yang terjadi antara Stimulus- Respons.
·           Law of Readiness  artinya  bahwa  kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
·          Law of Exercise artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan  semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
b.      Classical Conditioning  menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum  belajar, diantaranya :
·         Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
·         Law of Respondent Extinction  yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
c.       Operant  Conditioning  menurut B.F. Skinner
Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum  belajar, diantaranya :
·         Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
·         Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning  itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
2)      Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Menurut Piaget perkembangan mempunyai beberapa tahap yaitu tahap sensory motor, pre operational, concrete operational dan formal operational.  Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru.  Guru  hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
ü  Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
ü  Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
ü  Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
ü  Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
ü  Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
3)      Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut Gagne tahapan  proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu motivasi, pemahaman, pemerolehan, penyimpanan, ingatan kembali, generalisasi, perlakuan dan umpan balik.
4)      Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai  “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler,  ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
ü  Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna  dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka  akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
ü  Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
ü  Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
ü  Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi  sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
ü  Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan.
ü  Ketertutupan (closure)  bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu: 
·         Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar.  Berlari, berjalan, mengikuti kuliah, bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
·         Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
·         Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan awan tampak  seperti gunung atau binatang tertentu.
·         Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses  yang dinamis  dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran  terhadap rangsangan yang diterima.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
·         Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
·         Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan  dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna  yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
·         Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah  aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
·         Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain.  Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek  dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi  apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain.  Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
D.    MENGAJAR DAN MENDIDIK
Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu juga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen.Sepanjang pengetahuan saya, untuk mengetahui perbedaan mendidik dan mengajar ada kalanya kita berkaca pada sejarah. Pada awalnya kita mengenal istilah “pedagogy” dan bukan “edukasi” yang seperti kita kenal sekarang ini. Hal ini merujuk pada pendapatnya Mark E. Hanson, yaitu adanya satelit Soviet yang terkenal, Sputnik mengejutkan Orang Amerika, kekuatan detik secara signifikan berdampak pada pendidikan AS. Suatu ketakutan mengikat emosi berpacu bangsa AS. Bahwa pendidikan AS telah tertinggal. Ketakutan yang sama menelan daratan itu lagi pada tahun 1983, dengan laporan penerbitan A Nationat Risk. Pengarah untuk memulai memodernisasi kurikulum, aspecially dalam area ilmu pengetahuan, matematika, dan bahasa asing. Proyek telah dikembangkan oleh universitas akademis, seperti Physical Science Studi Commitee Eksakta (PSSC) dan University of Illino is Committeeon School Mathematics (ULCSM), hal itu dimaksudkan untuk membaharui, dan meningkatkan mutu isinya merangsang teknik mengajar yang diorientasikan pada penemuan (discovery oriented). Amerika yang merasa sebagai polisi dunia ternyata tidak hanya menghegemoni ekonomi, politik pertahanan, tapi juga menghegemoni pendidikan. Berangkat atas dasar inilah kemudian mengubah segala bentuk pedagogi menjadi “education” yang dalam padanan Bahasa Indonesia dikenal dengan penddikan. Sehingga, pandangan klasik tentang pendidikan tempo dulu yang kita kenal mulai luntur.
Mendidik (pedagogy) yang dikatakan oleh sebagian orang sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua ,mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga diatas memberikan pengertian bahwa mendidik bukan hanya transfer of know ledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia. Sementara mengajar hanya pada tataran transfer of know ledge.

SUMBER
Dimyati dan mujiono.(2009).Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Rineka cipta
(bedanya-mendidik-dan-mengajar.http://mkpd.wordpress.com/diakses tanggal 05 mei 2011 pukul 11.00 WIB)
(http://asnaldi.multiply.com/journal/item/5/diakses tanggal 07 Juni 2011 pukul 10.25 WIB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar